SMKN 1 Lubuklinggau Siap Terapkan Kurikulum Merdeka

Suasana In House Training Pembelajaran Kreatif Inovatif Berbasis IT di SMK Negeri 1 Lubuklinggau yang menghadirkan narasumber Kasi Kurikulum Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Awalludin,S.Pd.,M.Si, Senin (7/3/2022).

LUBUKLINGGAU – Senin (7/3/2022) Kasi Kurikulum Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Awalludin,S.Pd.,M.Si tandang ke SMK Negeri 1 Lubuklinggau, Jl Ahmad Yani, Kelurahan Megang, Kota Lubuklinggau. Kedatangan beliau untuk berbagi ilmu sebagai narasumber In House Training (IHT) Pembelajaran Kreatif Inovatif Berbasis IT.

Dalam kegiatan yang terpusat di Aula SMKN 1 Lubuklinggau ini, Bapak Awalludin mengajak guru SMKN 1 Lubuklinggau menghargai setiap potensi peserta didik.

Sebagaimana tiga karakteristik utama Kurikulum Merdeka.
Pertama, pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila.
Kedua, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

Ketiga, fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Sehingga guru bukan mengutamakan ketuntasan kurikulum. Guru dilarang mengajarkan anak jadi individu yang egois. Melainkan peran guru saat ini mengajarkan anak-anak bekerjasama, kolaborasi, sehingga bisa maju bersama.

Dengan kurikulum paradigma baru, pembelajaran bersifat kritical tihinking,kolaborasi,kreatif dan ownership. Sebagaimana Kurikulum Merdeka telah resmi diluncurkan oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jumat, 11 Februari 2022.

Dalam IHT sengaja dibahas mengenai ‘Pembelajaran Kreatif Inovatif Berbasis IT’, tujuannya agar para guru terus termotivasi tumbuh untuk berinovasi, demi layanan pendidikan terbaik pada siswa-siswi.

Kepala SMKN 1 Lubuklinggau Eriani bersyukur menjadi SMK pertama penyelenggara IHT ini. Ia menyatakan, SMKN 1 Lubuklinggau siap jadi sekolah yang menerapkan kurikulum Merdeka.

Parameter untuk menentukan sekolah merdeka memang terletak pada peserta didiknya. Di dalam kelas yang merdeka, setiap siswa-siswi memiliki suara. Siswa yang belajar merasa merdeka untuk belajar, bertanya, dan mengungkapkan pendapatnya.

Eriani mengungkapkan, merdeka belajar bermuara pada kemerdekaan guru menggunakan metode mengajarnya.

“Jadi, saya harap kami semua (guru SMKN 1 Lubuklinggau) memiliki persamaan persepsi. Bahwa guru yang baik bisa menjaga fokus belajar sisw-siswinya, komunikasi dan ikatan emosional antara dia dan siswa-siswinya berjalan baik, sehingga setiap potensi anak-anak bisa tergali melalui pembelajaran di SMKN 1 Lubuklinggau,” ungkapnya.(lipos/lik)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *