Napi Bebas Konsumsi Narkoba di Dalam Lapas Narkotika

Ilustrasi Penjara
Ilustrasi Penjara

LIPOSSTREAMING.NEWS – Peredaran Narkoba di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) disinyalir marak terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya masih bebasnya para narapidana menggunakan Handphone sampai diduga ada bantuan khusus dari oknum petugas Lapas.

Hal ini diketahui dari pengakuan salah seorang mantan Warga Binaan Lapas Narkotka Kelas IIA Muara Beliti, RI yang menceritakan langsung bagaimana bebasnya peredaran Narkoba didalam Lapas selama ini.

Penggunaan handphone yang sebetulnya dilarang digunakan oleh setiap Napi, yang menjadi celah masuknya Narkoba ke Lapas. Di dalam ungkapnya, seharusnya warga binaan tidak bisa menggunakan Handphone, namun karena ada warga binaan lainya bisa menyewa Hp untuk berhubungan dengan orang lain di luar. Untuk HP biasa yang hanya bisa untuk telepon sehari sewanya Rp 20 ribu, sementara untuk HP android sehari Rp 50 ribu.

Ada juga petugas keamanan yang jual Hp, jenis biasa seharga Rp 250 ribu. Namun setelah itu Hp akan kena razia dan belum sampai tiga bulan hp tersebut dimusnakan.

“Jadi kalau mau nelepon orang luar kita bisa menggunakan hp yang disewakan tersebut. Makanya kami di dalam Lapas masih bisa berkomunikasi bahkan cari uang, ada juga yang melakukan transaksi narkoba dengan mengatur jalur peredaran narkoba tersebut. Namun biasanya sering dilakukan secara diam-diam. Bahkan ada oknum yang sengaja melakukannya pada malam hari saat anggota lagi tidur,” ungkap sumber ini, Kamis 17 Februari 2022.

Selain itu untuk melakukan transaksi sabu dan judi kartu, menurutnya lebih aman di dalam.

“Biasanya judi yang sering dimainkan oleh warga binaan berupa togel atau judi dadu dan kartu. Oknum petugas keamanan diberi beberapa persen agar tetap ‘diam’,” jelasnya.

Pria yang pernah mendekam di Lapas ini, mengatakan, penjara tempat yang aman untuk transaksi jual beli narkoba. Meskipun mereka tetap melakukanya secara sembunyi-sembunyi. Ia mengaku, banyak sekali tahanan kasus narkoba bisa tetap menghisap ganja atau menggunakan sabu meski di dalam sel.

“Biasanya ada backing oknum pekerja penjara yang mau mendisribusikan, dengan pura-pura tidak tahu asal dapat amplop dari mereka yang butuh Narkoba. Kadang ada juga dari keluarga korban saat menjenguk saat sebelum pandemi. Namun pernah ada kajadian ada pengunjung yang ketangkap, saat antar sabu ke dalam lapas,” ceritanya.

Menurutnya pihak kepolisian selalu menegaskan, akan menindak lanjuti adanya transaksi narkotika yang berada dalam Lapas, namun hal tersebut sangat sulit dilakukan, bahkan banyak halangan dan tidak bisa menangkap secara mendadak.

RI juga menceritakan bahwa pengalaman selama di Lapas Kelas IIA Muara Beliti tidur di kamar ukuran 6 x 6 meter yang diisi sekira 25 warga binaan. Di dalam satu ruangan berisi kamar mandi dan dapur serta tempat jemur pakaian. Jika warga binaan mau mandi, tetap di kamar yang pintunya hanya ditutup tabir kain.

Airnya menggunakan PDAM, untuk makanan walau porsi makanan terbatas dan rasa yang kurang memadai, tapi jatah makan sudah pasti, bahkan daftar menu setiap harinya sudah ditentukan.

Kapan menunya telur rebus, tempe atau tahu, daging sapi atau ayam, ikan, sayuran dan seminggu sekali ada ekstrafooding berupa bubur kacang hijau. (lipos/adi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *