Warga Muratara Curhat di Medsos Listrik Sering Padam, Ini Tanggapan Manager PLN Lubuklinggau

LIPOSSTREAMING.NEWS- Masyarakat Kabupaten Muratara, Provinmsi Sumatera Selatan (Sumsel)  geram. Pasalnya di Muratara  listrik sering padam. Bahkan hampir setiap hari. Situasi tersebut sangat menganggu aktivitas mereka.

Kekesalan ini pun mereka curahkan di Media Sosial (Medsos) Facebook. Seperti dikutip dari postingan Sultan Barokah. Dalam postingannya itu ia menuliskan “Yang terhormat Manager PLN Rayon Lubuklinggau. Kami mohon lampu jalur Muratara ini tolong diperhatikan jangan cuma mengejarkan target tagihan saja disetiap bulannya, tapi kesejahteraan kami anda lupakan. Hampir setiap hari di Muratara ini mengalami gangguan yang cukup lama.”

Menanggapi postingan tersebut, Manager PLN Rayon Lubuklinggau Dairobi menjelaskan suplai listrik ke Kabupaten Muratara dan Kota Lubuklinggau hampir sama.

“Hanya saja kendalanya, di Muratara listrik sering padam, karena banyaknya dahan pohon yang menganggu kabel listrik. Sehingga mereka pun terpaksa sering melakukan pemeliharaan di sana,” jelasnya.

“Intinya karena kendala alam saja,” ungkai Dairobi, Jumat (4/3/2022).

Namun terkait tuduhan hanya mengejarkan target tagihan atau tunggakan saja, Dairobi pun tidak menyangkal hal itu. Namun bukan tanpa alasan. Ia menegaskan jika penyumbang terbesar tunggakan pelanggan mereka dari pelanggan di Muratara.

“Saat ini ada 120.000 pelanggan kami, meliputi Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kabupaten Muratara. Untuk pelanggan listrik di Muratara, lebih kurang 50.000, baik itu pelanggan listrik pra bayar dan pasca bayar. Wilayah kerja kita sampai Kecamatan Nibung hingga perbatasan. Dari total palanggan pasca bayar lebih kurang 30.000, yang menunggak setiap bulannya mencapai 10.000 pelanggan,” ungkapnya.

“Ini yang harus kita garis bawahi dan ketahui. Makanya kita juga tidak memungkiri, mengapa begitu antusias dengan tunggakan Muratara, karena Muratara menjadi sorotan terkait tunggakan pelanggan. Tapi saya juga tidak mungkin selama bekerja hanya memikirkan tunggakan saja,” tegasnya.

Dairobi beranggapan, dari postingan itu sebetulnya masyarakat dengan sendirinya mengakui jika tunggakan pelanggan PLN di sana memang besar.

“Secara logika dengan dia tepat menuliskan nama saya di sana, berarti orang itu paham betul dengan kinerja kami di Muratara. Apapun itu, kita kembali lagi dengan apa itu hak dan kewajiban. Hak dia mendapatkan listrik, berarti kewajiban dia ya membayar tagihan listrik tepat waktu,” ungkapnya.

Namun Dairobi memahami, dan menurutnya itu hak mereka untuk menyampaikan keluhan atau mengkritisasi.

“Kalau mereka mau mengatakan demikian, kami juga harus meminta kewajiban mereka. Kecuali mereka tidak ada tunggakkan listrik sama sekali di Muratara tetapi mati terus, nah itu statement yang bagus dan mungkin akan jadi perhatian kita. Wajar jika mereka menyoroti saya tidak pernah peduli dengan hak mereka,” tuturnya.

Ia menambahkan, mengapa PLN juga terus gencar menyelesaikan tunggakan pelanggan, karena tidak menutup kemungkinan PLN sangat membutuhkan dana untuk biaya operasional. Tunggakan listrik sebetulnya tidak boleh ada dan pelanggan wajib paling lambat membayar tagihan listrik sebelum tanggal 20.

Keluhan yang sama, juga disampaikan pelanggan di Kabupaten Musi Rawas. Kondisi seringnya listrik padam, juga sering terjadi di sana. Khususnya di Kecamatan Sumberharta dan Kecamatan Muara Lakitan.

Menanggapi hal ini, Manager PLN Muara Beliti, Febri Doni mengatakan persoalan listrik sering padam karena faktor gangguan pada jaringan akibat kena ranting pohon.

“Seperti di Desa Madang Kecamatan Sumberharta kemarin, karena ada travo yang rusak. Sebelumnya petugas PLN belum tahu kerusakan di mana, maka harus ditelusuri dulu jaringan listrik sepanjang 100 KM,” jelasnya saat dikonfirmasi tadi malam.

Kendala petugas PLN dalam mencari kerusakan karena kondisi hujan deras.

“Ketemu kerusakan itu sekitar pukul 24.00 WIB. Dan sekarang sudah diperbaiki sudah tidak ada lagi kerusakan,” paparnya.

Sedangkan pemadamaan listrik di Kecamatan Muara Lakitan disebabkan ada beberapa titik tanam tumbuh tidak boleh dipangkas oleh masyarakat, sehingga ketika hujan atau angin kencang akan menyebabkan pemadaman listrik.

“Kondisi tersebut terjadi karena faktor alam bukan disengaja. Jika terjadi pemadaman seperti itu petugas melakkan pengecekan jaringan untuk mencari sumber permasalahan, kemudian diperbaki,” jelasnya.

Masih banyak masyarakat yang tidak mengizinkan tanaman miliknya ditebang. Kalau pun ada yang mengizinkan hanya dipangkas bukan ditebang. Menurutnya jaringan PLN sistemnya sambung menyambung, jika terjadi gangguan di pangkal maka akan berpengaruh sampai ke ujung. Demikian juga sebaliknya ada kerusakan di ujung juga terganggu hingga ke pangkal. Seharusnya di sepanjang jaringan PLN harus bersih dari tanah tumbuh.

“Petugas di lapangan terus berupaya agar mendapatkan izin dari warga pohonya dipotong. Beberapa yang sudah dapat izin langsung dipotong. Harapan kita boleh ditebang agar tidak berulang-ulang untuk memangkas. Tapi masalahnya izin tebang ini yang tidak diberikan masyarakat. Terpaksa cukup dipangkas. Pohon sawit pelepahnya dipotong dua minggu tunas lagi,” paparnya.

Kemungkian tambahnya, kendala tersebut bukan hanya saat ini saja tapi menjadi permasalahan dari dulu.

“Kendala ini bukan saat ini saja, karena dari dulu seperti itu permasalahannya. Namun yang jelas bertahap kami tetap lakukan perbaikan walaupun petugas harus bekerja sampai mlam. Kalau ada kerusakan mau tidak mau harus ditelusuri, untuk mencari sumber kerusakan,” tambahnya. (lipos/sin/cw02)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *