5 Persen Penduduk Sumsel Pengguna Narkoba

Kepala BNN Kota Lubuklinggau, AKBP Himawan Bagus Riyadi

LIPOSSTREAMING.NEWS – Peredaran Narkoba Sumatera Selatan (Sumsel) termasuk di Kota Lubuklinggau hingga saat ini masih tinggi. Kepala Badan Narkotika Naisonal (BNN) Kota Lubuklinggau, AKBP Himawan Bagus Riyadi mengungkapkan, tahun 2020 lalu Sumsel berada diurutan kedua tingkat Nasional untuk penyalahgunaan Narkoba.

Hal ini diungkapkanya, saat dimintai tanggapan terkait pernyataan Ketua GANN Sumsel di media massa menyebutkan bahwa peredaran Narkoba di Sumsel nomor urut ketiga di dunia. “Kita belum tahu data mereka dari mana. Di BNN memang ada penelitian untuk mengukur yakni prevalensi yang dilakukan oleh BNN RI dan Livi di tahun 2019. Saat itu memang benar Sumsel urutan kedua tingkat Nasional untuk peredaran Narkoba. Namun tahun 2021 rilis resminya belum keluar, apakah naik atau turun,” ungkap Himawan.

Ia menjelaskan untuk Sumsel angka Pravelensi antara 5 atau 5,5 persen. Kalau dihitung penduduk Sumsel ada 8 juta jiwa, berarti ada 400 ribu orang yang melakukan penyalahgunaan dan pernah memakai narkoba. “Kanapa di Sumsel angka penyalahgunaan tinggi, karena dari angka penyalahguna yang berhasil di rehab oleh BNN Provinsi dan jajarannya dalam satu tahun kemarin baru 1.000 residen, sehingga angka pravelensi masih tinggi. Makanya BNN Kota Lubuklinggau selalu gencar untuk lakukan rehabilitasi, agar banyak penyalahguna atau pecandu melapor diri. Semakin banyak rehabilitasi, bisa mengurangi pemakai,” jelasnya lagi.

Namun ia memastikan, ditahun 2021 jumlah residen atau pemakai narkoba yang direhab meningkat 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya . Tahun 2020 hanya 57 residen yang direhab, sedangkan di tahun 2021 menjadi 134 residen yang direhap dengan 130 residen yang mengajukan sendiri (Voluntary) dan 4 residen yang terima dari pihak kepolisian agar direhab (compulsary). Untuk laki-laki ada 108 orang dan perempuan ada 26 orang.

Ia menyampaikan dari 134 residen itu 97 residen hanya dilakukan rawat jalan di Klinik Pratama. Sementara lainnya rawat inap dengan 17 residen Yayasan Karunia Insani di Kabupaten Mura, enam residen di Kalianda Lampung, lima residen di BNN Provinsi Bengkulu, empat orang yayasan Karunia Insani Lubuklinggau dan empat residen yayasan rumah female Karunia Insani.

Untuk tangkapan yang dilakukan pihaknya, diakuinya tidak terlalu banyak. Tahun 2020 ada dua tangkapan dan 2021 juga ada tangkapan. Dia menegaskan, jika prioritas mereka aat bukan penangkapan, namun lebih ke pencegahan, salah satunya menggencarkan rehabilitasi bagi para pecandu narkoba.

Sayangnya tegas Himawan, kendala mereka saat ini tempat rawat inap masih kurang, baik di Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara. Bagi pecandu dari keluarga yang mampu, tentunya tidak jadi masalah, namun bagi pecandu yang tidak mampu tentu jadi masalah. Mereka harus menyiapkan biaya untuk pergi ke tempat rehab.

Untuk rawat inap yang gratis milik BNN hanya ada di Lido Bogor, dan Kalianda Lampung. “Makanya di Lubuklinggau, kita gandeng rehap IPWL Lubuklinggau di Bengawan Solo dan IPWL Musi Rawas di Kecamatan Tugumulyo, walaupun masih harus berbayar. Namun dibandingkan ongkos kesana, masih lebih murah rehap yang ada di Lubuklinggau dan Musi Rawas. Bagi pecandu yang betul-betul tidak mampu, kita lakukan rawat jalan di BNN dan gratis,” tegasnya.

Kendala lainya, personil mereka saat ini masih sangat terbatas. Mereka pun sudah mengajukan ke Pemerintah Kota Lubuklinggau untuk terbitkan tim Pokja Penanganan Rehabilitasi yang diaktifkan di Puskesmas terdekat. Fungsinya untuk membantu BNN, karena petugas BNN tidak tercover untuk melakukan rehabilitasi jalan bagi pecandu narkoba di Lubuklinggau. “Yang paling terjangkau oleh kita saat ini, hanya 100 atau 150 orang. Hal ini disebabkan keterbatasan personil ditambah kesadaran masyarakat yang masih kurang untuk lakukan rehab,” tambahnya.

Bahkan, Barang Bukti (BB) hasil tangkapan Narkoba yang dilakukan oleh Polres Lubuklinggau alami peningkatan 100 persen.

Kapolres Lubuklinggau AKBP Harissandi melalui Kasat Narkoba Polres Lubuklinggau Iptu Hendri juga membenarkan umlah BB tangkapan narkoba tahun lalu, alami peningkatan. 2020 ada 187 tersangka, dengan BB sabu sebanyak 2.051.79 gram, Ganja 2.251,06 gram dan Ekstasi sebanyak 190,5 butir. Sementara di tahun 2021, ada 132 tersangka namun dengan jumlah BB yang meningkat cukup signifikan. Seperti BB Sabu 15.541.03 gram, Ganja 229.7 gram dan ekstasi sebanyak 3.971.75 butir serta 1.650 serbuk esktasi.

Untuk itu tegas Hendri, pihak terus gencarkan penangkapan, terutama penangkapan para bandar dan pengedar barang haram tersebut. Selain itu, pencegahan dengan melakukan penyuluhan dan imbauan juga terus merela lakukan. Seperti memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah dari SD, SMP, SMA bahkan di kampus yang ada di Kota Lubuklinggau. “Tujuan dari penyuluhan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada pelajar tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba serta dampak buruk yang ditimbulkannya. Dengan meningkatkan pengetahuan tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba serta dampak buruk yang ditimbulkannya, kita harapkan, bisa meningkatkan kesadaran pelajar akan bahayanya narkoba. “Selain itu kita pasang spanduk, dan membentuk kampung tangguh bersih narkoba seperti di Patok besi, Kelurahan Sumber Agung Kecamatan Lubuklinggau Utara I, dan di Kawasan Bukit Sulap, Kelurahan Ulak Surung Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Ini merupakan bentuk pencegahan dari kita,” tegasnya.

Kampung tangguh bersih Narkoba merupakan bentuk kepedulian masyarakat untuk bisa bersama-sama memberantas peredaran narkoba dilingkungan mereka. “Semoga kedepan semakin banyak kampung tangguh narkoba di Lubuklinggau. Dalam setiap kegiatan, pemberantasan narkoba, itu perlu sekali peran serta masyarakat, tidak mungkin kita bisa bekerja sendiri,” tambahnya. (adi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *