Demo Didepan DPMD Distop Polisi Pasalnya Melakukan Hal ini

FOTO : MUHAMMAD YASIN / LINGGAU POS UNJUK RASA - Kepala DPMD Kabupaten Mura Ahmadi Zulkarnain (kiri) saat menemui pengunjuk rasa dari Gerakan Aktifis Selamatkan Silampari depan Kantor DPMD Kabupaten Mura, Kamis (19/5/2022).

LIPOSSTREAMING.NEWS –Unjuk rasa di depan Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Musi Rawas Kamis (19/5) distop Polisi. Pasalnya aksi yang dilakukan Gerakan Aktifis Selamatkan Silampari (GASS) sempat memanas.

Ketegangan bermula saat pengunjuk rasa merasa tidak puas atas jawaban yang disampaikan Kepala DPMD Kabupaten Mura, Ahmadi Zulkarnain. Sehingga terjadi debat kusir antara pengujuk rasa Efran dan Kepala DPMD, Ahmadi Zulkarnain.

Ahmadi Zulkarnain sempat menjawab tentang dana Bimtek Kades. Ahmadi meminta kepada pengujukrasa membuktikan anggaran Bimtek Kades sebesar Rp 17,8 miliar yang ditulis di karton yang dibawa oleh pengunjuk rasa.

“Tolong buktikan kalau anggaran Bimtek Kades Rp 17,8 miliaar,” kata Ahmadi.

Pengunjuk rasa, Efran menimpali kalau tidak sampai Rp 17,8 miliyar berapa anggarannya.

“Berapa anggaran Bimtek Kades tahun 2021,” tanya Efran menimpali.

Ahmadi lalu menjelaskan bahwa anggaran Bimtek kades tidak ada di DPMD. Pos anggaran kegiatan tersebut berasal dari Dana Desa (DD) sehingga anggaranya ada di APBDes.

“Bukan kewenangan kami untuk menjelaskan karena kami tidak tahu anggaran masing-masing desa. Kegiatan Bimtek itu dianggarkan di APBDes, itu kewenangan Pemerintah Desa (Pemdes). Mereka mau pakai jasa biro perjalanan apa itu hak mereka karena program dari DD,” jelasnya.

Menurut Ahmadi tulisan di kertas karton yang bertuliskan “Dana Bintek Kades Rp17,8 M menguap” merupakan bentuk tuduhan. Efran menegaskan bahwa tulisan tersebut bukan menuduh tapi bertanya.

“Bukan menuding, kami bertanya,” sanggah Efran.

Ahmadi menimpali kalau kalimatnya seperti ini sudah menuduh.

“Kalimat ini menuduh adik ku, bukan bertanya. Kalau bertanya kemana dana Bimdek Kades? Itu baru bertanya. Kalau kalimat ‘menguap’ itu sudah menuduh,” jelasnya.

Melihat kondisi semakin panas maka Wakapolsek Muara Beliti, Ipda M Sinambela mengambil alih micropon yang dipegang Ahmadi. Wakapolsek meminta kepada pengunjukrasa untuk membubarkan diri.

“Silakan kalian pulang. Kalau tidak puas atas jawaban Kepala Dinas ada jalur hukumnya sepulang dari sini silakan lapor ke Polisi atau Kejaksaan. Kalian jangan peralat kami. Kami menjaga keamanan bukan untuk menuruti sesuai keinginan kalian,” pintanya.

Efran mengajak rekan-rekannya untuk membubarkan diri. Mengenai laporan akan dibahas lebih lanjut.

“Mari kita pulang. Mengenai langkah selanjutnya nanti kita bahas lebih lanjut,” jelas Efran.

Lalu pengunjukrasa membubarkan diri. Dalam aksi tersebut pengujukrasa membawa kertas karton berisi tuntutan mereka. (LIPOS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *