Sapi Terkena Virus PMK Tidak Sah Dijadikan Hewan Kurban

Ketua MUI Kota Lubuklinggau, KH Syaiful Hadi Ma’afi

LIPOSSTREAMING.NEWS – Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) mulai menyebar di Kota Lubuklinggau. Bahkan sedikitnya 10 Sapi di Kelurahan Marga Rejo Kecamatan Lubuklinggau Utara I Kota Lubuklinggau, positif terkena Penyakit Mulut dan Kaki (PMK). Hal ini diketahui dari hasil laboratorium dari sampel yang diambil oleh Dinas Pertanian (Distan) Kota Lubuklinggau.

Apa tanggapan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lubuklinggau terhadap hewan yang terkena virus PMK?

Ketua MUI Kota Lubuklinggau, KH Syaiful Hadi Ma’afi menegaskan sapi yang cacat termasuk terkena PMK tidak sah untuk dijadikan hewan kurban. Dalam syariat Islam sapi yang sah dikurbankan adalah sapi atau hewan ternak yang tidak cacat. Artinya sapi itu sehat baik secara fisik maupun psikis atau non fisiknya. “Jika sapi dinyatakan menderita PMK berarti tergolong cacat. Tidak sah dijadikan hewan kurban,” tegas Syaiful Hadi, Selasa (17/5/2022).

Baca Juga : Waspada Virus PMK Mulai Menyebar di Linggau

Menurut Syaiful Hadi, sapi yang ada bekas luka bekas bajak dianggap cacat dan tidak sah dijadikan hewan kurban. Terlebih sapi tersebut sakit karena terjangkit virus, seperti PMK. Diakuinya sapi yang terjangkit PMK boleh dikonsumsi namun harus dipisahkan dengan syariat Islam tentang kurban.

Dia menyampaikan, hewan kurban bukan soal harga sapi atau jumlah daging,  tapi soal kegagahan sapi yang diqurbankan. “Kan hewan kurban untuk kendaraan kita di sana. Kalau sakit bagaimana,” ucapnya .

Syaiful menyampaikan, dengan adanya sapi terjangkit PMK, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait. Kemudoan secepatnya akan segera melakukan pertemuan untuk membuat imbauan ke masyarakat terkait kesiapan hewan kurban.

Apalgi secara rutin setiap jelang hari raya kurban, MUI selalu ambil bagian bidang pengkajian dan penelitian termasuk masalah kehalalan dan kesehatan hewan kurban. Dia menghimbau, masyarakat yang akan berkurban saat Idul Adha agar berhati-hati memilih hewan yang prima. Jika belum paham bisa berkoordinasi dengan yang berkompeten. (lipos)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *