Ratusan Anak di Lubuklinggau Masuk Kategori Stunting

ILUSTRASI STUNTING
Ilustrasi stunting

 

 

LIPOSSTREAMING, LUBUKLINGGAU – Januari lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Puskesmas, sudah merampungkan pendataan anak stunting. Hasilnya, ada 1,46 persen balita stunting dari 24.460 bayi usia 0 sampai 59 bulan yang menjadi sasaran pendataan angka stunting tahun 2021.

 

Dari 10 Puskesmas ditemukan 134 anak sangat pendek dan 224 anak pendek. 134 anak ditambah 224 ada 358 anak dibagi 24.460 yang menjadi sasaran dikali 100 persen hasilnya 1,46 persen. Angka ini mengalami penurunan dari tahun 2020, dimana saat itu ada 1,8 balita stunting di Lubuklinggau.

 

358 anak ini dengan rincian, dari Puskesmas Prumnas Lubuk Tanjung terdata anak sangat pendek 7 orang, anak Pendek 3 orang. Puskesmas Maha Prana terdata anak sangat pendek 1 orang dan anak Pendek 8 orang. Puskesmas Sidorejo terdata anak sangat pendek 5 orang dan anak pendek 3 orang.

 

Lalu di Puskesmas Simpang Periuk anak sangat pendek 89 orang, anak pendek 162 orang. Puskesmas

Citra Medika  terdata anak sangat pendek 2orang dan anak pendek 2 orang, Puskesman Taba terdata anak sangat pendek 1 orang dan anak pendek 8 orang. Puskesmas Swasti Saba terdata anak sangat pendek 3 orang, anak pendek 6 orang. Puskesmas Petanang anak sangat pendek 5 orang dan anak pendek 9 orang, Puskemas Megang anak sangat pendek 21 orang dan pendek 23 orang.

 

Namun data ini terus di update oleh Dinkes Kota Lubuklinggau, yang hasilnya angka stunting di Kota Lubuklinggau kembali turun.

 

“Data terakhir yang kita dapat, angka stunting kita 1,2 persen. Ditemukan 105 anak sangat pendek dan 202 anak pendek. Total ada 307 anak. Angka stunting kita masih sangat rendah, bahkan jauh dari angka nasional yang saat ini mencapai 14 persen,” ungkap Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Erwin Armeidi melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Ely Rosida.

 

Ely mengaku, sejak awal 2021 Dinkes ‘kebut’ pendataan angka stunting, karena 2022 semua daerah di Indonesia sudah ditetapkan daerah locus stunting. Sehingga, kedepan pemerintah sudah menyiapkan beberapa program berdasarkan data yang didapat.

 

“Untuk wilayah locus tetap sesuai SK Wali Kota Lubuklinggau tentang Kelurahan fokus intervensi stunting di Kota Lubuklinggau tetal ada 10 kelurahan, yakni Kelurahan Marga Rahayu, Rahma, Simpang Periuk, Siring Agung, Taba Pingin, Lubuk Kupang, Eka Marga, Tapak Lebar, Tanah Periuk dan Moneng Sepati,” jelasnya.

 

Sejauh ini tambah Ely, untuk anak yang stunting murni belum terindikasi di Lubuklinggau. Yang ada terindikasi stunting. 2019 terdata 116 anak yang terindikasi stunting, 2020 terdata 109 anak terindikasi stunting.

 

“Kebijakan di 2022, semua Kabupaten/Kota di Sumsel akan dijadikan locus stunting, bahkan se Indonesia. Bukan berarti angka stunting kita tinggi, namun kebijakan ini sudah menjadi kebijakan nasional sebagai upaya penurunan angka stunting secara Nasional. Makanya kita tahun ini diminta melakukan pendataan agar tahu pasti berapa angka stunting kita yang sebetulnya,” ungkap.

 

Setelah data didapat nantinya lanjut Ely, langkah selanjutnya akan ada kegiatan-kegiatan, seperti membuat posko stunting per kelurahan, rembuk angka stunting atau kegiatan lainya. Untuk melakukan kegiatan tersebut, makanya perlu data. (rfm)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *