Bocah Dipukuli dan Dicekik

KORBAN - Gibran Daffah Al Mubaroq alias Iban (12) didampingi ibunya saat menjalani perawatan RS AR Bunda Lubuklinggau, Rabu (23/3/2022).

LIPOSSTREAMING.NEWS – Pelaku penganiyaan anak dibawah umur, Anton ajukan damai ke pihak keluarga korban. Keinginan ini langsung disampaikan pelaku, Sealsa malam (22/3/2022) di RS AR Bunda saat menjenguk korban.

Tawaran agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan diterima ayah korban, Musarul (33) dan ibu korban Erawati (32). Hal ini mereka ungkapkan saat ditemui Linggau Pos di RS Ar Bunda, kemarin.

“Namun ini baru sebatas omongan. Belum ada surat perjanjian diatas materai antara kami dan pelaku. Damai boleh, namun harus dibuat surat perjanjian diatas materai. Pihak pelaku sudah mau, tapi saat ini kita fokus penyembuhan Gibran dulu,” ungkap Musarul.

Menurut Musarul kejadian naas yang menimpa anak itu Selasa (22/3/2022) sekira pukul 15.00 WIB. Anaknya Gibran Daffah Al Mubaroq alias Iban (12) sedang bermain bersama kelima temannya disamping pemakaman umum di RT 11, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Lubuklingggau Utara II.

“Mungkin ada teman korban yang main lempar-lemparan batu yang mengenai seng di Rumah Makan Lintas Raya (Telago) yang dikelola pelaku. Karena kebetulan rumah makan dia posisinya pas dibawah tebing tempat anak saya bermain. Saat itu Anton naik keatas dan mengejar anak-anak, namun karena anak saya merasa tidak bersalah ia tidak lari, sedangkan temannya semua lari. Saat itulah Iban dipukuli,” jelasnya.

Saat itu pelaku menangkap korban, dan langsung menghajar korban dengan menonjok muka korban bertubi-tubi sambil mencekik korban, sehingga korban mengalami memar dan biru di wajah, pecah bibir serta ada bekas cekikan di lehernya.

Saat itu ia dan isteri diberitahu oleh teman sang anak, kalau Iban telah dipukul orang. Mereka bilang “Tante, anak tante dipukul orang besak.” Mendengar hal tersebut ia langsung menemui anaknya di TKP.

“Sampai di sana anak saya sudah dibawa ke rumah Ketua RT 11, lagi menangis karena habis dipukuli, sementara pelaku saat itu sudah diamankan. Kami pun langsung membawa anak kami ke Rumah Sakit. Alhamdulillah hari ini (kemarin, red), Iban berangsur pulih sudah bisa main,” jelasnya.

Hasil visum dan laboratorium sudah diambil oleh pihak kepolisian. Dalam masalah ini ia sudah yakin untuk diselesaikan secara kekeluargaan saja, walaupun mereka sudah melapor secara lisan ke Polisi, karena malam tadi kebetulan pihak kepolisian datang ke rumah sakit.

“Pelaku sudah memiliki itikad baik, akan bertangung jawab kepada anak saya dan ia juga menyesali perbuatannya. Apalagi keluarga pelaku juga tetangga dekat kami, makanya kami juga menerima itikad baik pelaku,” jelasnya.

Sementara Kapolres Lubuklinggau AKBP Harissandi menjelaskan, terduga pelaku penganiayaan terhadap korban Iban siswa kelas VI SD warga RT 12, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Lubuklinggau Utara II sudah diamankan.

Harrisandi membenarkan pelakunya Anton (40) warga RT 11, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Lubuklinggau Utara II dan pengelola Rumah Makan Lintas Raya.

Setelah mendapatkan informasi yang viral Facebook (FB), terduga pelaku langsung diamankan dan menemui pihak keluarga korban.

“Malam kejadian saya juga sudah menemui orang tua korban di rumah sakit. Orang tua korban sudah menyampaikan rencana perdamaian antara keduanya. Pelaku juga sudah siap membantu biaya pengobatan korban selama di rumah sakit,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan kepada keluarga korban, kalau sudah ada perdamaian agar suratnya disampaikan ke penyidik.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Lubuklinggau, Heri Suryanto melalui KUPT PPA, Devi Iriyani mengungkapkan pihaknya sudah menerima laporan dugaan penganiayaan kepada seorang anak warga Jalan Kenanga I Lintas, Kelurahan Kenanga itu.

“Kita juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial. Hari ini (23/3) kita mau sambangi kediaman korban. Dapat informasi kalau korban ini telah dirawat di Rumah Sakit AR Bunda. Makanya kami bakal kunjungi rumah korban, baru kunjungan ke rumah sakit. Kami akan meminta pendampingan di kasus ini,” ungkap Devi, kemarin.

Pihaknya akan mendaklanjuti kasus ini, sesuai visum. Jika korban mengalami trauma maka mereka akan melakukukan pendampingan ke psikolog.

“Untuk tindaklanjutnya nanti tetap kita lakukan, karena untuk mengobati trauma itu tidak hanya sekali pendampingan Psikolog, bisa 2 hingga 3 kali pertemuan. Kami nanti akan berkoordinasi dengan pihak bersangkutan, Dinas Sosial, Polres Lubuklinggau dan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM),” jelasnya.

UPT PPA sendiri tambah Devi, punya operator Simpatisan Peran (Sistem Informasi Catatan, Laporan dan Penanganan Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak) dan itu juga sudah ada di pihak kecamatan. Jadi apapun urusan tindakan kekerasan pada anak silakan melaporkan kepada pihak kecamatan.

“Dengan adanya Simpatisan Peran ini kita bisa bertindak cepat, seperti saat ini. Kita langsung menuju lokasi, dengan seluruh aparat yang menaungi hal itu atau kejadian seperti ini. Jadi kita akan ada dengan pengaduan-pengaduan seperti ini,” jelasnya.

Ia juga mengimbau bagi orang tua yang memiliki anak harus dilakukan pengawasan kemudian jangan ada tindakan yang anarkis terhadap anak di lingkungan dan kita juga mengingatkan jangan sampai kejadian seperti ini terjadi lagi.(adi/dkz)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *