21 – 23 Februari Pengusaha Tahu Tempe Mogok Produksi

TAHU : Di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan ada 60-an produsen tahu dan tempe. Saat ini mereka sangat terpukul dengan kenaikan harga kedelai yang menyentuh angka Rp 11.000 per kg. Jika harga kedelai naik terus hingga Rp 12.000 per kg, diperkirakan separuh dari jumlah produsen itu akan tutup. Mengingat modal produksi yang tak sebanding dengan income mereka.

LIPOSSTREAMING, LUBUKLINGGAU – Harga kedelai memang berangsur naik beberapa minggu lalu, hingga sekarang mencapai Rp11.300 per Kilogram (kg). Hal itu diungkapkan Rosihin sebagai distributor kacang kedelai di wilayah Wira Karya II saat dibincangi kemarin.

 

“Awal bulan lalu harga kedelai masih Rp10.000, terus beberapa minggu naik lagi menjadi Rp11.300 per Kg. Kalau untuk eceran sekarang sudah Rp11.500, sementara Rp11.300 itu untuk harga Jakarta,” jelas Rosihin, Sabtu 19 Februari 2022.

 

Rosihin juga menginformasikan 21 – 23 Februari nanti di Jakarta para pengrajin atau produsen tahu tempe akan melakukan mogok produksi.

 

“Di Lubuklinggau tidak bisa (mogok produksi,red), tahu sendiri lah. Bahkan pernah untuk mogok, tapi banyak produsen tahu tidak mau. Jadi sekarang siapa yang kuat dia bertahan, yang tidak kuat ya lewat. Kira-kira seperti itu,” ungkapnya.

 

Ia membenarkan, saat para produsen tahu masih mengandalkan kacang kedelai impor dari Amerika, sedangkan kedelai lokal ada tapi tidak mencukupi.

 

“Ada memang kedelai lokal di pulau Jawa,tapi tidak mencukupi untuk kebutuhan di sana apa lagi keluar daerah. Walau pun dari luar negeri harga masih kisaran Rp11.000 paling gak sampai kesini harganya Rp11.200 hingga Rp11.300, karena kami biasanya menerima kisaran Rp200. Biasanya kedelai masuk ke Linggau, ke kami ya biasanya 20 ton paling tidak lebih kurang seminggu ambil lagi,” jelasnya.

 

Jadi kalau untuk pelanggan diungkapkannya, sekarang tinggal 10 hingga 15 pelanggan atau produsen tahu tempe.

 

“Kalau untuk produsen atau pengrajin tahu tempe itu sekitar 70 orang baik itu yang kecil maupun yang besar. Kami juga ada data, jadi tahulah untuk produsen pengrajin tahu tempe,” ungkapnya.

 

Untuk distributor lanjutnya, di Lubuklinggau ada sekitar 6 hingga 8 distributor. Sedangkan untuk kebutuhan kedelai di Lubuklinggau itu per hari sekitar lebih kurang 8 ton.

 

“Kalau sebelum pandemi lalu saya pribadi bisa menghabiskan 7 hingga 8 pikul (1 pikul sekitar 60 Kg), setelah pandemi ini sepi luar biasa. Turunnya hingga 50 persen. Jika nanti mungkin harga kedelai tembus Rp12.000 mungkin banyak pengrajin tahu tempe yang tutup,” ungkap bapak penghobi burung ini.

 

Untuk pengrajin sekarang lanjutnya, kalau dikumpul sekitar 50 hingga 60 produsen tahu dan tempe, baik yang produsen besar maupun kecil.

 

“Kemungkinan jika mencapai Rp12.000 tadi kenaikannya, mungkin saja produsen yang kecil bisa habis setengahnya,” ungkap bapak yang juga produsen tahu ini.

 

Memang ada yang bilang diperkirakan kedelai mencapai Rp12.000 dan sekarang sudah mencapai Rp11.500. Ia pun beranggapan masih bisa naik harganya.(lipos/dkz)

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *